Memahami Papua.

Oleh : Lukas Enembe, S.IP, MH

Jayapura. Tabloidmediapauaonline. Tantangan terbesar saya dalam membangun Papua adalah memutuskan rententan sejarah yang telah melukai hati dan menyengsarakan rakyat Papua. Trauma masalalu berupa pemberlakuan kebijakan Papua sebagai Daerah Operasi Militer ( DOM ) telah meninggalkan trauma fsikologis yang mendalam.

Sama menyakitkan dengan DOM yang ada di Aceh, saudara sebangsa yang dibesarkan dalam keadaan terluka di dalam pangkuan ibu pertiwi. Kemarahan atas pembunuhan politik, pengambilan paksa terhadap hak adat, dan juga kesengsasaraan orang asli Papua, membuat sebahagian orang Papua menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka ( OPM ).

Mereka mengangkat senjata melawan pemerintah pusat. Walaupun DOM telah dicabut dari Papua, namun sampai hari ini persoalan  OPM belum juga tuntas. Seharusnya, Pemerintah Pusat tidak menunda-nunda proses komunikasi konstruktif untuk memutus rantai kekerasan yang terjadi di Papua. Selaku Gubernur, saya selalu berada pada titik kesadaran sebagai hamba Tuhan yang penuh kasih.

” Bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kebencian, dan kebencian akan menghancurkan kebangsaan itu sendiri.” ( Lukas Enembe )

Menurut saya konflik dua kekuatan antara OPM dan aparat kemanan telah menjadi penghambat kemajuan daerah. Rakyat Papua yang berada ditengah pusaran konflik akan selalu menjadi korban pertama. Bagi saya, ada banyak cara yang lebih manusiawi dan bermartabat dalam mendekati kelompok OPM dan membawa mereka kembali dalam pangkuan dan belai kasih ibu pertiwi.

Politik seperti dua sisi mata uang yang dapat membawa kebaikan tetapi juga membawa bencana. Ia dapat menjadi alat pemecah bangsa, tetapi di sisi lain merupakan alat pemersatu bangsa, inilah yang terjadi di Papua. Siapapun yang menginginkan kekuasaan dan mencapainya atas dasar kebohongan, maka sesungguhnya kekuasaan itu akan menghancurkan dirinya. Saya percaya dengan iman saya, bahwa hanya kekuasaan yang dibangun dengan kebenaran dan keadilan yang akan dapat bertahan lama. Saatnya masyarakat Papua melihat politik sebagai sebuah jalan menuju kasih-Nya yang dibangun dengan tujuan-tujuan mulia yang bersandarkan pada nilai-nilai kemanusiaan, bukan untuk memperkaya diri atau kelompoknya.

Papua adalah negeri dengan seribu puncak, seribu lembah, seribu suku dan seribu bahasa. Kesulitan geografis, sumberdaya manusia, dan sistem kehidupan sosial disetiap suku menjadi tantangan dan pengalaman yang menarik yang dapat menambah pengetahuan saya dalam memahami hati, fikiran, dan keinginan rakyat Papua. Menyerap aspirasi rakyat Papua adalah tugas saya sebagai pemimpin. Panggilan ” Bapak Gubernur Papua’ adalah penghormatan bagi seorang Lukas Enembe sekaligus penghormatan Negara terhadap seluruh rakyat Papua.

Papua adalah negeri dimana sebagian rakyatnya mengalami keterbatasan-keterbatasan dan sebagian lagi mendapatkan kekuasaan-kekuasaan. Masyarakat dipengunungan berada dalam keterbatsan dan kesulitan dalam mendapatkan akses kesehatan, pendidikan dan juga ekonomi. Disparitas yang tinggi antara masyarakat Papua di pengunungan dengan yang di Pesisir menjadi pekerjaan rumah yang berat, dan butuh kekuatan besar untuk dapat menyelesaikannya.

Belum lagi persoalan integrasi Papua ke Indonesia yang belum tuntas, pelanggaran HAM selama era DOM di Papua, dan kelompok separatis yang mengangkat senjata. Langit Papua seperti selalu tertutup awan gelap yang bisa tiba-tiba turun hujan yang begitu deras, atau petir yang turun dengan suaranya yang menakutkan.

Papua adalah negeri yang membutuhkan ketulusan hati pemimpinnya untuk dapat membangun yang masih terluka ini. Terluka oleh berbagai kebijakan dan pernyataan dari para oknum pejabat  di Pusat yang tidak memahami karakter budaya serta permasalahan Papua. Kejadian pelanggaran HAM dengan penembakan terhadap 7 orang penduduk Deiyai  yang menyebabkan 1 orang meninggal dunia tanggal 1 Agustus 2017 yang lalu, akan semakin menambah rumit masalah Papua dan akan semakin menurunkan kepercayaan masayarakat Papua terhadap pemerintah pusat. Diperlukan suatu upaya yang luar biasa dari pemerintah pusat untuk bisa menghapus trauma dan kesedihan serta kemarahan masyarakat Papua atas kejadian ini. ( AI/PIMPRED/VIII/2-17 )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here