BIOGRAPHY

Lukas Enembe Bukan Gubernur Bisa, Membangun Papua dengan Cita, Karsa dan Karya

 

Penulis: Adrian Indra, S.Sos

Editor  : Ansahafira Wulandari, ST

Tata Bahasa: Diandracreative Design

Tata Letak: Diandracreative Desaign

Sampul: Diandracreative Desaign

 

Diterbitkan Oleh:

Diandra Kreatif

(Kelompok Penerbit Diandra)

 

Anggota IKAPI

Jl. Kenanga No. 164

Sambilegi Baru Kidul, Maguwharjo, Depok, Sleman Yogyakarta Telp. (0274) 4332233, Fax. (0274) 485222

 

 

Cetakan 1, Januari 2018

Yogyakarta, Diandra Krreatif, 2016

viii + 82; 13 x 19 cm

ISBN: ……………………

 

Hak Cipta dilindungi Undang-undang

All right reserved

 

DARI PENULIS

Seperti biasa, dalam kata pengantar suatu buku atau suatu karya Ilmiah, penulis menyampaikan rasa syukur atas selesainya penulisan buku ini. Rasa syukur, patut penulis sampaikan, karena didalam menulis buku Biografi seorang tokoh besar seperti Lukas Enembe, bukanlah suatu hal yang mudah. Kesulitan bukan pada penulisannya, tapi lebih pada penyusunan alur cerita dan pemilihan kata-kata yang cocok. Dalam buku Biografi Lukas Enembe, “ Bukan Gubernur Biasa,  Membangun Papua dengan Cita, Karsa dan Karya “, penulis ingin memberikan suatu gambaran yang agak lengkap tentang perjalanan hidup dan visi seorang pemimpin Papua yang belakangan ini namanya sering diberitakan oleh berbagai media masa.

Tidak jarang sering terjadi salah faham antara pejabat Pusat di Jakarta dengan sang Gubernur didalam pelaksanaan kebijakan pemerintahan yang harus dilaksanakan di Papua. Kesalahfahaman ini terjadi sebahagian besar karena belum terjadinya suatu pemahaman yang utuh dan lengkap oleh para pejabat pusat di Jakarta tentang bagaimana kondisi Papua itu yang sebenarnya dan bagaimana juga tentang kepribadian dan karakter dari seorang pemimpin Papua yang bernama Lukas Enembe. Sehingga diharapkan nanti dikemudian hari, bisa tercapai suatu kesamaan sudut pandang antara Papua dan Jakarta dalam rangka membangun Papua. Kesamaan sudut pandang ini juga mencakup dalam hal revisi UU Otsus Papua yang selama 16 tahun belum ada direvisi. Padahal kondisi perkembangan keadaan di Papua saat ini sudah jauh berbeda, yang mana keberadaan UU Otsus sudah sangat memerlukan untuk dievaluasi bersama.

Pemerintah Pusat, sebenarnya sangat beruntung bisa memiliki seorang Lukas Enembe sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Pusat di daerah Papua. Lukas Enembe adalah Merah Putih sejati, yang sangat memahami pentingnya Papua  selalu bergabung dengan NKRI. Dalam hati dan fikiran Lukas Enembe, kesejahteraan rakyat Papua adalah prioritas utama yang perlu diperjuangkan, bukan soal referendum ataupun pemisahan Papua dari NKRI.

Semua fakta dan bukti yang ada, Lukas Enembe selalu menentang gerakan-gerakan separatis di Papua, dan selalu mengedepankan kepada masyarakat Papua dan mahasiswa Papua serta para Bupati dan Walikota, untuk mengedepankan belajar dan meningkatkan kemampuan SDM serta membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Lukas Enembe selalu menyatakan kepada masyarakat Papua, bahwa Papua sudah Merdeka dalam bingkai NKRI.

Lukas Enembe berkali-kali sangat memuji mengenai program pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan oleh Presiden Joko Widodo di tanah Cenderawasih. Pernyataan yang tulus dari Lukas Enembe ini, karena memang sesuatu fakta dan kenyataan yang ada, Presiden Joko Widodo, benar-benar bekerja untuk mensejahterakan Papua. Memang pernah terjadi ketika kunjungan Presiden Jokowi ke Papua, Lukas Enembe tidak bisa mendampingi yang disebabkan oleh masalah kondisi kesehatannya yang benar-benar drop karena terlalu bekerja keras siang dan malam tiada henti.

Peristiwa ini sempat menjadi polemik, namun memang seperti itulah pertarungan politik di Papua. Ada pihak-pihak yang sering menyebarkan berita Hoax yang memberitakan hal-hal yang negatif tentang Lukas Enembe. Bagi Lukas Enembe, hal seperti itu, sudah biasa, Lukas Enembe akan terus berjalan, selama dia tidak melakukan hal seperti yang diberitakan itu, dia tidak pernah gentar.

Kondisi Politik, Sosial dan Budaya di Papua tidak sama dengan Provinsi lainnya di Indonesia, sering kita mendengar istilah, lihatlah masalah Papua dengan kacamata Papua bukan dengan kacamata Jakarta. Artinya hanya orang – orang yang benar-benar faham seutuhnya masalah Papua yang tau dan mengerti, bagaimana untuk menyelesaiakan masalah yang ada di Papua serta bagaimana cara yang tepat untuk membangun Papua.

Gejolak politik yang terjadi di Papua belakangan ini, seperti Gerakan oleh kelompok separatis bersenjata di Timika, tuntutan  referendum, tuntutan merdeka, serta dialog di tingkat masyarakat, serta ancaman terhadap keamanan di Papua yang terjadi akhir-akhir ini merupakan tantangan serius yang dihadapi oleh Pemerintah Pusat dan juga oleh Gubernur Papua.

Lukas Enembe sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Pusat di Papua berada di pusaran permasalahan yang ada itu. Ada asap pasti ada api, artinya dengan adanya pemberontakan dan tuntutan referendum itu, sudah pasti karena adanya ketidakpuasan akan kesejahteraan dan atau karena masalah HAM dan Operasi Militer dimasa yang lalu. Serta ketidaksamaan pandangan tentang masalah ketika Papua integrasi ke pangkuan NKRI 50 tahun yang lalu.

Lukas Enembe disebutkan “ Bukan Sebagai Gubernur Biasa “ dalam Buku Biograpi ini, karena selama 4 tahun memimpin Papua, Lukas Enembe melaksanakan pekerjaan lebih dari apa yang ada pada  diatur melalui PP No. 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Propinsi dan UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Apa motivasi dari seorang Lukas Enembe, sehingga mau bekerja lebih dari apa yang seharusnya dia kerjakan ? apakah untuk popular atau untuk agar terpilih di periode berikutnya ? Jawabannya bukan karena itu, tapi jawabannya yang benar adalah karena keinginan dari dalam hati yang cukup kuat dari Lukas Enembe yang ingin melihat seluruh masyarakat Papua bisa sejahtera dan bisa lebih maju kehidupannya.

Konsekuensinya, Lukas Enembe harus bekerja keras dan harus rela meluangkan waktu, tenaga dan fikirannya untuk bisa mewujudkan semua yang diimpikannya itu.  Salah satu dari karakter kepemimpinan Lukas Enembe adalah selalu dekat dengan masyarakatnya dan  merangkul semua kalangan termasuk lawan politinya. Sudah menjadi rutinitas semenjak Lukas Enembe menjadi wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya, bahwa sehari hari  kediaman Lukas Enembe selalu didatangi oleh masyarakat dengan berbagai persoalan yang ada. Lukas Enembe hampir tidak ada waktu untuk berkumpul dengan keluarganya. Ketika jam tidur larut malam, masyarakat belum pada pulang. Dan pada pagi hari, ketika Lukas Enembe belum bangun, masyarakat sudah datang bertamu ke kediamannya. Lukas Enembe dengan senang hati selalu melayani dan mendengarkan setiap keluhan yang disampaikan oleh masyarakatnya.

Oleh karena itulah, kenapa Lukas Enembe sangat dicintai masyarakatnya dan juga sangat dekat dengan masyarakatnya. Lukas Enembe menerima semua kalangan, dengan tidak melihat faktor suku dan agama.

Tugas dan mimpi Lukas Enembe untuk membangun Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera bukan suatu tugas yang gampang, mengingat kondisi pembangunan Papua yang sangat jauh bila dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Indonesia. Juga dengan keterbatasan sumber daya manusia dan kondisi daerah yang cukup luas dengan medan yang sulit dijangkau. Semua rintangan itu bukanlah menjadi penghambat bagi seorang Lukas Enembe untuk membangun Papua dan mensejahterakan masyarakatnya. Dengan segala keterbatasan yang ada, Lukas Enembe berupaya untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakatnya.

Tidak banyak yang tau bagaimana kerja keras yang telah dilakukan oleh Lukas Enembe baik ketika menjadi wakil Bupati Puncak Jaya, Bupati Puncak Jaya maupun sebagai Gubernur Papua, untuk mewujudkan Program dan Strategi yang telah ditetapkannya dalam membangun Provinsi Papua kedepannya.

Hasil-hasil pembangunan di Kota Mulia di Puncak Jaya, Papua, sebuah tugu besar nan monumental berdiri kokoh menjulang ke langit di tengah lapang menyanggah burung bersayap lebar berwarna putih terkembang membekap sebuah globe (bola dunia) dengan gambar peta NKRI di dalamnya. Itulah Tugu Penampakan Ruh Kudus yang menjadi salah satu icon Kota Mulia yang selalu “memuliakan” Tuhan sebagai penolongnya.

Di sisi lain dari lapangan di atas ketinggian sebuah bukit kecil yang telah diratakan, sebuah bangunan mewah dan megah berdiri kokoh, konstruksinya terlihat laksana pesawat tempur yang di rancang untuk tahan terhadap dinginnya angin gunung dan kerasnya batu cadas di Kota Mulia. Bangunan itu adalah salah satu bangunan permanen termegah yang ada di seluruh daerah pegunungan Papua.

Belum lagi bila kita membayangkan bagaimana proses membangun bangunan tersebut di daerah yang medannya sangat sulit dijangkau, dengan sarana transportasi yang sangat minim dan mahal, serta tingginya gangguan keamanan yang seakan tiada henti, akan menambah decak kagum kita yang melihatnya.

Semua bangunan monumental ini, mulai dari kantor Bupati, Tugu Penampakan Roh Kudus, Bandara Mulia, jalan dua jalur dalam kota, dan beberapa bangunan gereja telah diresmikan sebelum Lukas Enembe mengakhiri masa jabatannya setahun silam.

Sumber dana seluruhnya berasal dari Dana Otonomi Khusus (Otsus). Menurut Lukas, Dana Otsus yang selama ini digelontorkan Pemerintah Pusat dalam penyalurannya ke Puncak Jaya lebih dominan diperuntukkan bagi penguatan SDM, khususnya para pemangku kepentingan dan berbagai stake holder yang ada di Puncak Jaya.

Otsus yang saat ini berjalan bisa dikatakan terbukti tidak mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di Papua, usulan Otsus Plus yang diajukan oleh Pemprov dan DPRP serta MPRP sampai saat ini belum bisa diterima oleh Pemerintah Pusat. Jadi, bagaimana Papua kedepannya ? dan bagaimana solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah Papua ?

The Show Must Go On, mungkin itulah kata-kata yang tepat bagi Lukas Enembe pada kondisi saat ini. Cita dan Karsanya harus terus dijalankan walaupun dengan keadaan apapun untuk bisa menghasilkan Karya bagi pembangunan Papua dan kesejahteraan masyarakat Papua. Dalam tulisan ini, agar pembaca mempunyai suatu pandangan yang sama, penulis uraikan makna yang penulis maksud dari Cita, Karsa dan Karya tersebut.

Cita ialah suatu tujuan yang diimipikan yang akan dicapai atau dilaksanakan.

Karsa bermakna keinginan atau kemauan yang kuat. Apabila dalam tahap cita dan rasa, keinginan-keinginan itu masih tak kasat mata, maka dalam tahap selanjutnya keinginan itu harus diupayakan maujud sehingga dapat dilihat, disentuh dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Karsa berarti kekuatan untuk mewujudkan keinginan tersebut menjadi nyata.

Karya adalah hasil perbuatan dari Cita dan Karsa.

Dalam penulisan buku Biografi ini, penulis yang sebelumnya juga banyak menulis tentang kepemimpinan dan strategi Lukas Enembe didalam memimpin Papua serta membuatkan berbagai Video tentang bukti nyata kinerja Lukas Enembe didalam memimpin Papua, juga menggali dari berbagai sumber yang terpercaya baik dari tokoh-tokoh masyarakat Papua dan juga team dari Humas Pemprov Papua. Penulis juga ada mendapatkan beberapa keterangan langsung dari Bp. Lukas Enembe, S,IP, MH mengenai pembangunan Papua dan permasalahannya.

Dalam buku ini, penulis ingin mengupasnya dari sudut pandang sebagai seorang Jurnalis dengan gaya bahasa penulis yang mengalir bebas tanpa sekat-sekat kepentingan pihak manapun. Penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan disana-sini. Namun, penulis berharap, bahwa buku ini bisa memberikan sedikit informasi dan pencerahan tentang seorang pemimpin Papua yang bernama Lukas Enembe sekaligus memaparkan berbagai permasalahan yang ada di Papua dan juga hasil Kinerja yang telah ditorehkan oleh Lukas Enembe yang akan terus diingat dan dicatat dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Data tertulis tentang Biografi Lukas Enembe ini, memang belum ada ditemui di Google ataupun di Koran Online, yang ada hanya dalam bentuk Buku.

Semoga dengan selesainya tulisan ini, akan ada data Online tentang Biografi Gubernur Papua yang bisa dibaca oleh seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat Papua. Karena, sejarah akan mencatat, kisah heroik yang sangat luar biasa dari seorang anak Pengunungan Papua, untuk membangun Papua dan mensejahterahkan masyarakatnya. Buku ( baik dalam bentuk cetak dan bentuk e-book ) adalah wadah untuk mencatat semua sejarah itu, agar nantinya bisa dibaca oleh generasi penerus Papua selanjutnya.

Dalam Bab-bab selanjutnya akan dikupas kisah masa kecil Lukas Enembe si anak negeri diatas awan yang selalu hidup dikelilingi kabut dan rimba belantara raya. Pahitnya hidup dalam kondisi serba kekurangan ketika masa SMP dan SMA yang memaksa Lukas Enembe kecil harus bekerja sebagai pembantu dan juga berjualan di pasar untuk mencukupi biaya hidup dan biaya sekolahnya. Cobaan dan tantangan datang silih berganti seolah sebagai ujian dari Tuhan yang Maha Kuasa bagi mental dan jiwanya kelak. Juga penulis paparkan tentang keberhasilan Kinerja Lukas Enembe dari tahun ke 1 s.d tahun ke 4 kepemimpinannya di Propinsi Papua. Pada Bab  IV, penulis mengupas secara khusus tentang UU Otsus Papua yang telah 16 tahun berlaku di Papua dan sudah sangat mendesak untuk segera di revisi. UU Otsus itupun pelaksanaanya seperti setengah hati dan banyak kelemahan serta kendalanya.

Pada Bab V penulis mengupas program yang dilaksanakan oleh Presiden Joko Widodo di Papua, yang penulis istilahkan Nawacita hadir di Bumi Papua. Presiden Joko Widodo pernah menyampaikan bahwa ketimpangan pembangunan di Indonesia Timur dan Indonesia Barat sangat timpang sekali. Begitu juga dengan tingginya harga BBM di daerah Pengunungan Tengah, Papua yang bisa mencapai Rp 60.000 sd Rp 100.000 perliternya. Presiden Joko Widodo melihat bahwa tidak terdapat rasa keadilan dengan kondisi seperti itu. Maka Presiden Joko Widodo membuat gebrakan dengan membeli pesawat khusus pengangkut BBM dan mensubsidi sebesar Rp 800 Milyar per tahun untuk menyeragamkan harga BBM di Papua. Begitu juga dengan infrastruktur dan jalan trans Papua, yang mana kondisi Papua sangat jauh tertinggal, Presiden Joko Widodo melaksanakan pembangunan yang mana diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Papua.

Pada akhir kata pengantar ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada seorang Tokoh Besar Papua yang bernama Pdt. Lipiyus Biniluk, MH. Beliau ini tokoh pemikir Papua yang telah mempunyai pengalaman Internasional dan selalu berupaya berbuat yang terbaik untuk membangun Papua serta mensejahterakan masyarakat Papua. Juga kepada adik-adik saya di Jayapura yang selalu mensupport saya, yaitu Max Ohee, Yohanes Unggul, serta Ricard Imbiri. Dan tak lupa juga ucapan terimakasih saya kepada Legislator Papua, Laurenzus Kadepa, Ramses Ohee, Yonas Nussy dan juga kepada tokoh muda Papua Apedius Mote dan Elpius Hugi. Semoga kita tetap bersama dalam suatu perjuangan dalam membangun Papua.

 

Penulis

 

Adrian Indra, S.Sos

Penulis

Adrian Indra, S.Sos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here