KATA SAMBUTAN

    Pertama-tama saya mengucapkan selamat atas diterbitkannya buku Biography Gubernur Provinsi Papua, Bp Lukas Enembe yang berjudul  “ Lukas Enembe Bukan Gubernur Biasa. Buku ini bagus untuk memberikan informasi pada masyarakat tentang perjalanan hidup seorang Gubernur Papua dan hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan di Provinsi Papua baik yang merupakan program dari Pemerintah Pusat maupun program Pemerintah Daerah. Dalam era otonomi daerah dan era keterbukaan informasi pada saat ini, hendaknya segala sesuatu yang dikerjakan oleh pemerintah dapat dengan cepat diketahui oleh masyarakat.

  Saya tanggal 20 Desember 2017 ini mengunjungi Papua dan Papua Barat Agenda pertama, menyerahkan sertifikat tanah untuk rakyat di Gedung Aimas Convention Center, Kabupaten Sorong. Selepas acara itu,  melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Nabire, Provinsi Papua menggunakan Pesawat CN-295 melalui Bandara Domine Eduard Osok, Kota Sorong. Di Nabire, saya akan meninjau lahan bandar udara baru serta meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Nabire dan PLTMG Papua di Kelurahan Kali Bobo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire. Selanjutnya ke Raja Ampat untuk mempengati hari ibu, di Lapangan Waisai Torang Cinta (WTC)  dan meninjau pembangunan Bandar Udara Marinda, Waisai, Raja Ampat, Papua Barat.

    Dua provinsi paling timur Indonesia ini, yakni Papua dan Papua Barat, sangatlah istimewa. Papua dan Papua Barat punya keunggulan berupa kekayaan alam yang melimpah. Pertambangan, pertanian, kehutanan, kelautan, pertanian. Lengkap, namun sayang,  kekayaan alam Papua yang melimpah itu bak mutiara yang terpendam. Ada banyak tantangan di Papua dan Papua Barat seperti kesenjangan ekonomi hingga ketimpangan pembangunan. Isu utama di Papua dan Papua Barat adalah keterisolasian, yang menyebabkan dua provinsi ini sulit berkembang. Karena alasan itulah, saya dan jajarannya terus berupaya menggenjot pembangunan untuk mewujudkan konektivitas.
Bagaimana Papua dan Papua Barat bisa keluar dari segenap kekurangan itu? Pembangunan infrastruktur untuk memperlancar konektivitas antar wilayah, antar kabupaten, dan antar daerah. Itulah kunci untuk menggerakkan perekonomian, juga pemerataan pembangunan di Papua dan Papua Barat.

      Saya sampaikan kembali mengenai kondisi ketimpangan lain di Papua, contohnya harga semen di daerah itu sampai Rp 800.000 per sak. Di bulan-bulan cuaca tidak baik kadang bisa Rp 1,5 juta dan di kabupaten tertentu bisa 2,5 juta. Padahal, di Pulau Jawa, harga semen per zak hanya Rp 70.000-Rp 80.000. Hal yang sama terjadi pada harga bahan bakar minyak yang mencapai Rp 60.000-Rp 100.000 per liter. Padahal, di Pulau Jawa harganya hanya Rp 6.500 per liter. Betapa perbedaannya sangat jauh sekali. Melihat kondisi ini, saya memerintahkan jajarannya agar harga BBM di Papua sama dengan di Jawa. Baru setelah satu setengah tahun, perintah itu bisa terwujud. Ini bukan masalah ekonomi, ini masalah keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Butir ke 3 Nawacita yang berbunyi, membangun Indonesia dari pinggiran dengan menguatkan daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan merupakan landasan umum pembangunan di wilayah Papua.  Pada saat yang sama, Program Indonesia sehat, Indonesia Pintar, Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera dalam Nawacita kelima juga harus merata di seluruh Papua. Fokus pembangunan Papua ada dalam bingkai Nawacita keenam, meningkatkan produktivitas rakyat Indonesia dan daya saing di pasar internasional. Caranya dengan membangun infrastruktur mulai dari jalan raya penghubung berbagai daerah di Papua, pelabuhan dan bandara baru yang semua itu kini sedang dilakukan.

    Demikian kata sambutan saya dalam buku ini, semoga Bp. Lukas Enembe tetap diberikan kekuatan dan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa didalam memimpin masyarakat Papua dan terus bekerja untuk membangun Papua dan mensejahterakan masyarakatnya menuju Papua Bangki, Mandiri, Sejahtera.

 

Presiden Republik Indonesia

 

Ir. Joko Widodo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here