BAB I

MASA LALU LUKAS ENEMBE

MASA SEKOLAH DASAR

Lukas Enembe dilahirkan di desa Mamit, Distrik Kembu, Kab. Tolikara, Papua pada tanggal 27 Juli 1967. Lukas Enembe adalah anak ke-6 dari 7 bersaudara, yang mana dari sejak kecil Lukas Enembe sudah terlihat menonjol dari teman-teman sebayanya. Selain pintar disekolah, sikap berkemauan yang tinggi dan berkarakter kepemimpinan dari seorang Lukas Enembe kecil diakui oleh teman-temannya.

Salah seorang teman bermain Lukas Enembe ketika masih SD yang bernama Naftali Weya, menceritakan bahwa Lukas Enembe kecil sangat suka berburu dihutan, apakah berburu tikus tanah ataupun kuskus. Hampir setiap hari sepulang dari sekolah mereka pergi ke hutan untuk berburu guna mencari hewan yang dapat diburu untuk kemudian dagingnya mereka makan bersama.

Lukas Enembe kecil adalah generasi yang dilahirkan dan dibesarkan disuatu daerah pegunungan yang terpencil yang selalu tertutup kabut dan dikelilingi oleh hutan belukar yang luas dan besar. Berjalan berpuluh-puluh kilometer diantara semak dan belukar berduri, lembah dan ngarai yang berlumut dan licin adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan sehari hari dalam kehidupan Lukas Enembe kecil. Gemiricik air dari pengunungan dan suara burung serta binatang hutan lainnya selalu menemani hari-harinya.

Kehidupan yang menyatu dengan alam ini, banyak sekali memberikan pelajaran beharga bagi Lukas Enembe kecil, yang mana kelak, pelajaran ini akan membentuk karakter kempemimpinannya dan juga menjadikan mental dan kepribadiaan yang seteguh alam. Yang mana jika Lukas Enembe menemui tantangan atau cobaannya didalam memimpin Papua, Lukas bisa mengasumsikan bahwa ini hanya contoh tantangan yang ada di alam ke tantangan dalam Pemerintahan dan tantangan dalam membangun Provinsi Papua.

Galas Wanimbo, teman bermain Lukas Enembe yang lainnya menceritakan bahwa Lukas Enembe kecil sangat rajin membaca, bahkan jika Lukas Enembe menemukan potongan/ sobekan Koran, selalu dibersihkannya dan dibacanya berkali-kali. Lukas Enembe kecil mengganggap setiap informasi dan ilmu yang baru itu sangat penting. Oleh karena itu, Lukas Enembe kecil dijuluki sebagai         “ Kutu Buku ” oleh teman-temannya.

Suatu waktu Lukas Enembe kecil pernah bertanya pada Eles Enembe, jika nanti sudah besar apa cita-cita dari Eles Enembe, Eles Enembe menjawab cita-citanya ingin menjadi polisi. Lukas Enembe kecil, menceritakan bahwa cita-citanya nanti ingin menjadi pemimpin daerah yaitu Bupati. Lalu Lukas Enembe kecil menanyakan kepada Eles Enembe, jika jadi seorang Polisi, bagaimana cara memberi hormat yang benar kepada seorang Bupati. Eles Enembepun lalu memberikan hormat kepada Lukas Enembe kecil yang saat itu berperan sebagai Bupati. Ternyata cara memberi hormat dari Eles Enembe, salah dan Lukas Enembe kecil memperbaiki dengan memberikan contoh cara memberi hormat yang benar. Sejak itulah, Lukas Enembe kecil mendapat julukan baru lagi dari teman-temannya sebagai “ Bupati Kecil “.

Disekolah, Lukas Enembe kecil termasuk murid yang paling pintar, selalu juara kelas, khususnya dalam bidang mata pelajaran Matematika, teman-teman satu sekolahnya yang bernama David Weya, Simon Kembu, Yona Enembe, Galas Wanimbo juga mengakui kepintaran dari Lukas Enembe itu. Setiap hari Minggu, Lukas Enembe dan teman-temannya selalu datang ke sekolah Minggu di gereja yang ada di Kampung Mamit, distrik Kembu, Kabupaten Tolikara. Galas Wanimbo teman sekolah Minggu Lukas Enembe kecil pernah mengatakan bahwa Lukas Enembe nantinya akan menjadi seorang pemimpin besar di tanah Papua yang akan membawa kemajuan pembangunan Papua dan juga kesejahteraan bagi Orang Asli Papua.

MASA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Tahun 1979-1980 Lukas Enembe berhasil tamat dari SD YPPGI Mamit dengan prestasi juara kelas dan melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 1 Sentani, Jayapura.

Di Sentani, Lukas Enembe tinggal berbagai tempat, salah satunya adalah ditempat penggergajian kayu dan ikut kerja di penggergajian kayu untuk biaya sekolah dan biaya hidup sehari-hari. Walau keadaan kehidupan yang serba kekurangan. Lukas Enembe tetap rajin kesekolah. Karena Lukas Enembe sangat menyadari bahwa sekolah adalah tujuan utama hidupnya yang harus diperjuangkan walau dengan kondisi apapun. Lukas Enembe juga pernah bekerja sebagai pembantu di Yonif 751 dan bahkan pernah kerja di rumah makan Minang di Sentani. Tidak jarang sepulang sekolah dengan keadaan yang masih memakai baju SMP, Lukas Enembe dan teman-temannya berjualan sayur, singkong dan buah di pinggir jalan pasar Sentani. Lukas Enembe juga sering memikul nangka dari Pos 7 Sentani yang dibawa dengan jalan kaki ke pasar Sentani, untuk dijual.

MASA SMA DAN MASA KULIAH

Pada Tahun 1983 Lukas Enembe berhasil menamatkan SMPnya dan diterima di SMA Neg 3 ( SMA Neg. 1 Sentani ). Sama seperti ketika di SMP dulu, Lukas Enembe juga harus sambil bekerja untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Lukas Enembe dengan hati yang kuat dan mental yang keras seperti baja, mampu menjalani masa-masa kehidupan yang sulit itu, sehingga akhirnya dapat menyelesaikan pendidikan SLTAnya pada tahun 1986.

Ketika kelas 2 SMA, Lukas Enembe mengisi formulir untuk masuk test perguruan tinggi, Lukas Enembe memilih salah satunya di Univesitas Sriwijaya Fakultas Ekonomi, yang mana pada saat itu, Lukas Enembe tidak mengetahui dimana letak Universitas Srwijaya itu. Kemudian Lukas baru menyadari bahwa Universitas Sriwijaya itu ada di Kota Palembang, di Pulau Sumatera. Pilihan Lukas Enembe yang satu lagi adalah di Gorontalo, Sulawesi Utara, Fakultas Keguruan dan pendidikan. Lukas Enembe berangkat ke Menado sendirian, tidak ada yang mengantar, Lukas Enembe waktu itu naik kapal Umsini. Lukas Enembe merasakan suatu kebanggaan yang luar biasa, bisa menaiki kapal Umsini dari Jayapura menuju Menado. Seorang teman Lukas Enembe ketika masa kuliah yang bernama Carolus Kelen Boli, SE menceritakan bahwa dalam pergaulan sehari-hari di Gorontalo, Lukas Enembe sangat supel dan mempunyai pergaulan yang luas.

Lukas Enembe tidak memandang suku, agama dan status sosial dari teman-temannya. Di Kota Gorontalo yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Lukas Enembe dapat menyesesuaikan diri dengan baik. Oleh berbagai alasan, pada Semester IV, Lukas meninggalkan Kampus FKIP di Gorontalo dan pindah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unsrat di Manado pada jurusan Ilmu Politik. Selama masa studi di Fisipol itulah, Lukas membentuk “Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah” di dalam wadah IMIRJA (Ikatan Mahasiswa Irian Jaya) Sulawesi Utara. Ide ini muncul ketika Lukas menyadari dirinya dan teman-temannya selalu kesulitan biaya kuliah. Lukas ingin menjadikan IMIRJA sebagai wadah mencari sponsor dana.

Dengan kepiawaian yang dimiliki, Lukas mendapat sponsor dari berbagai sumber untuk menyambung kelangsungan studinya dan teman-temannya.  Lukas juga sangat aktif di organisasi kepemudaan dan organisasi lainnya di kampus. Carolus Boli juga menyatakan bahwa Lukas Enembe sangat rajin membaca.

Pada saat masih kuliah, Lukas Enembe adalah ketua Mahasiswa asal Papua di Menado. Untuk menambah biaya kehidupan sehari-hari dan biaya kuliah, Lukas Enembe membuat program yang benama program cari kerja, yaitu dengan membawa parang dan sekop berkelililng kota Menado. Mereka mengerjakan apa saja, membersihkan halaman, rumah , kebun milik warga. Lalu warga kota Menado ada yang memberi mereka makan dannada juga yang memberikan uang pada mereka, Lukas Enembe mengistilahkan program ini dengan Toki- Toki.

Hari demi hari berlalu,  Lukas Enembe akhirnya mendapatkan beasiswa dari berbagai sumber karena nilai maya kuliahnya selalu bagus. Ada sekitar 11 sd 12 sumber beasiswa, dan sejak saat itu Lukas Enembe sudah bisa menghandle dan membiayai kegiataan beberapa organisasi yang di pimpinnya.

MASA AWAL BEKERJA dan SEKOLAH KEPEMIMPINAN di AUSTRALIA

Tahun 1995, Lukas menyelesaikan studinya dengan prestasi yang sangat memuaskan. Ia pun kembali ke Papua dan melewati waktu bersama istrinya, Yulce Wenda dan keluarganya di Doyo Sabron, Kabupaten Jayapura. Sambil menunggu tes penerimaan CPNS, Lukas mengisi waktunya untuk berkebun. Ia membentuk kelompok tani bersama masyarakat Pegunungan Tengah di Sabron dan mengajukan surat permohonan ke Gubernur untuk meminta bibit pertanian. Hasil pertanian itu masih dinikmati hingga sekarang.

Setahun kemudian, Lukas diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ia ingin menjadi dosen Fisipol Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. Dan sejak pertama mendaftar, ia dikategorikan dalam 21 seleksi dosen tenaga lokal Pemda. Namun Tuhan punya rencana lain. Entah permainan siapa, pada saat pengumuman prajabatan, Lukas ditempatkan di Merauke. Keinginan untuk menjadi dosen kandas.

Dengan tabah, Lukas menerima SK penempatannya ke Kantor Sospol Kabupaten Merauke. Selama bertugas di Merauke, Lukas dan istrinya aktif dalam pelayanan di Gereja. Kekompakannya dengan jemaat Gereja Injil di Indonesia (GIDI) membuat mereka akhirnya mendirikan sebuah gedung gereja sederhana untuk menampung 100 orang.

Sayangnya, Lukas dan istrinya harus berpisah dengan jemaat GIDI. Lukas mendapat tugas baru dari kantor dan Badan Misi untuk melanjutkan studi pada lembaga pendidikan Kristen Cornerstone Australia selama 2 tahun. Jemaat sedih karena merasa kehilangan orang yang sangat mereka kasihi. Tanggal 26 Desember 1998, Lukas dan istrinya pun tiba di International Airport Sydney Australia.

Dinegeri Kangguru inilah cikal bakal terbentuknya karakter Lukas Enembe untuk menjadi seorang pemimpin yang disiplin, ulet, berinovasi dan tak kenal menyerah. Lukas Enembe selama 2 tahun juga mengadopsi budaya dan kebiasaan hidup oranf Australia yang selama ini belum pernah diketahuinya. Tantangan hidup dan belajar di Australia sangat berat bagi Lukas Enembe.

Lukas Enembe menerima pendidikan kepemimpinan yang sangat disiplin sekali.  Yang mana untuk ukuran orang Indonesia hal itu sangat berat sekali kedisiplinannya. Selama 2 tahun semuanya serba diatur, jam belajarnya, jam tidurnya, jam makannya, seperti tahanan, semuanya harus dijalani dengan sistem kedisplinan yang ketat. Lukas akhirnya bisa melalui semua pendidikan itu dengan baik. Jika tidak mempunyai tekad dan mental yang kuat, Lukas Enembe sudah pasti menyerah.

MASA KETIKA MENJADI WAKIL BUPATI, BUPATI PUNCAK JAYA

Sebelum Lukas Enembe meninggalkan Merauke menuju Australia, Lukas berjanji dalam hati dan menyampaikan janji itu kepada istri tercintanya. Bahwa sekembalinya mereka dari Australia, ia ingin untuk  menjadi Bupati Puncak Jaya.

Janji Lukas adalah janji yang sungguh-sungguh, keluar dari hati dan imannya. Dan benar  sekembalinya ia dari Australia 2001, ia langsung ke Puncak Jaya. Namun janjinya menjadi Bupati belum terkabulkan. Tuhan memberinya posisi sebagai wakil Bupati berpasangan dengan Drs. Eliaser Renmaur. Dalam pemilihan yang dilakukan oleh DPRD Puncak Jaya, 5 Juli 2001, Eliaser dan Lukas terpilih dengan 12 suara dari total 20 suara DPRD. Pada 10 Agustus 2001, Lukas pun dilantik menjadi Wakil Bupati Puncak Jaya (2001-2006) oleh alm. Gubernur Papua Drs. JP Salossa, M.Si.

Selama 4 tahun menjadi wakil bupati, Lukas tampil sebagai pemimpin jujur, rendah hati, aspiratif dan suka menolong rakyatnya. Cara pengelolaan birokrasi yang kaku pun dipatahkan. Hal ini yang menimbulkan perbedaan pendapat dengan Bupati. Oleh pertimbangan itu, ditambah lagi keinginannya mencalonkan diri menjadi Gubernur Papua di pentas politik 2006 melalui Partai Demokrat yang dipimpinnya, tahun 2005 Lukas berani mengundurkan diri dari jabatan Wakil Bupati Puncak Jaya. Sebagai politisi muda dari Pegunungan Tengah Papua, awalnya Lukas yang berpasangan dengan Ahmad Arobi Aituarauw, SE. MM dianggap sebelah mata. Sebab lawan-lawan politiknya lebih senior dan berpengalaman, seperti Barnabas Suebu SH-Alex Hesegem, SE, Drs. John Ibo, MM-Paskalis Kossay, S.Pd.MM, Drh. Constant Karma-Donatus Mote, SE.MM, dan Dick Henk Wabiser-Simon Petrus Inaury.

Namun keputusannya menggandeng pasangan dari kalangan Muslim yang menunjukkan sikap nasionalisnya, membuat Lukas mendapat banyak simpati rakyat. Terbukti, dalam pemungutan suara yang berlangsung 10 Maret 2006, sesuai hasil pleno rekapitulasi KPU Papua, Lukas meraup dukungan suara sebanyak 333.629 suara. Lukas kalah tipis dengan Suebu-Hesegem yang meraih 354.763 suara. Bahkan, Lukas dan tim suksesnya serta sejumlah kalangan mengakui, sesungguhnya Lukas yang memenangkan Pilkada tersebut. Lukas digagalkan oleh permainan politik kotor. Setelah gagal menjadi gubernur, Lukas pun menatap masa depan dengan mencalonkan diri sebagai Bupati Puncak Jaya tahun 2007. Ia berpasangan dengan Drs. Henok Ibo. Lukas tampak jauh lebih percaya diri untuk merebut 98.810 suara pemilih yang tersebar di 16 distrik.

Dan benar. Usai pemungutan suara, hasil rapat pleno KPUD Puncak Jaya tanggal 4 April 2007 memutuskan bahwa Lukas-Henok menang mutlak meraih suara sebanyak 54.929 (59%) dari 93.046 suara sah yang masuk. Sementara calon-calon lain tertinggal jauh, di mana Drs. Elieser Renmaur-Drs. Daniel B. Wakerkwa 20.579 suara (22%) dan Elvis Tabuni-Paul Tabuni memperoleh 17.538 suara (19%). Lukas pun dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya oleh Gubernur Papua, Barnabas Suebu, SH pada tanggal 28 Juni 2007. Lukas akhirnya benar-benar memenuhi janji pada dirinya dan sang istri untuk menjadi Bupati Puncak Jaya. Dengan sepenuh hati, Lukas membangun rakyat Puncak Jaya.

Berbagai gebrakan pembangunan dilakukannya. Ia menunjukkan keberpihakannya pada rakyatnya dengan kebijakan pendidikan dan kesehatan gratis, membangun infrastrukur seperti jalan darat Mulia-Wamena, Bandara dan Lapangan Terbang, perkantoran, sekolah, gereja dan rumah sakit, pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan berbagai bentuk usaha ekonomi, serta perhatian terhadap masyarakat adat, perempuan, pemuda dan agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here